Hero OP atau Skill Issue? Membongkar Mitos Balance Mobile Legends - Halo Sobat All needed, hampir setiap patch Mobile Legends melahirkan keluhan yang sama: “Hero ini OP”, “GG Moonton rusak balance”, atau “Kalau nggak ban itu, auto kalah.” Kalimat-kalimat ini terasa begitu masuk akal—terutama setelah kalah telak dari hero tertentu.
Namun, sebelum kita sepakat bahwa masalahnya selalu ada pada hero, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah benar ini soal balance, atau justru soal cara kita bermain dan memahami game?
Artikel ini tidak bertujuan membela pengembang atau menyalahkan pemain. Tujuannya membongkar mitos yang selama ini membuat diskusi tentang “hero OP” sering berakhir buntu.
1. Apa Sebenarnya Arti “OP”?
Banyak pemain menggunakan istilah overpowered dengan sangat longgar. Hero disebut OP bukan karena ia menang di semua kondisi, tetapi karena ia terasa sulit dihadapi dalam satu pengalaman buruk.
Padahal, secara desain, hero OP seharusnya:
- kuat di hampir semua fase game,
- minim counter efektif,
- dan memberikan dampak besar tanpa risiko signifikan.
Faktanya, sebagian besar hero yang disebut OP hanya kuat dalam konteks tertentu: draft yang tepat, eksekusi bersih, atau lawan yang tidak siap. Ketika konteks itu hilang, hero tersebut sering terlihat biasa saja—bahkan lemah.
2. Bias Kekalahan: Kenapa Hero Lawan Terasa Lebih Kuat
Secara psikologis, kekalahan lebih mudah diingat daripada kemenangan. Saat kamu kalah dari satu hero yang mendominasi, otak langsung mencari penjelasan sederhana. Menyebut hero itu OP jauh lebih nyaman daripada mengakui kesalahan sendiri atau tim.
Ini disebut availability bias: kita menilai sesuatu berdasarkan contoh yang paling mudah diingat, bukan data keseluruhan. Akibatnya, satu pengalaman buruk terasa cukup untuk menarik kesimpulan besar tentang balance.
Masalahnya, bias ini membuat diskusi balance kehilangan objektivitas.
3. Skill Issue Bukan Sekadar Mekanik
Istilah skill issue sering dipakai secara merendahkan, seolah hanya soal tangan yang kurang cepat. Padahal, dalam Mobile Legends, skill mencakup:
- pemahaman role,
- timing masuk war,
- positioning,
- pengambilan objektif,
- dan adaptasi build.
Banyak “hero OP” terlihat tak terbendung karena lawan gagal menyesuaikan diri. Salah positioning, salah target, atau memaksa war di timing buruk bisa membuat hero apa pun terlihat rusak.
Di titik ini, menyalahkan hero justru menutup peluang belajar.
4. Balance Tidak Pernah Benar-Benar Netral
Asumsi lain yang jarang diuji adalah bahwa game yang seimbang berarti semua hero sama kuat. Dalam praktiknya, itu mustahil—dan mungkin juga tidak diinginkan.
Meta selalu mengangkat beberapa hero ke permukaan. Ini bukan selalu kegagalan desain, melainkan cara menjaga dinamika permainan tetap hidup. Hero yang sering muncul di meta bukan berarti OP, tetapi lebih cocok dengan kondisi permainan saat itu.
Masalah muncul ketika pemain menganggap meta sebagai kebenaran mutlak, bukan konteks sementara.
5. Draft Pick dan Eksekusi: Faktor yang Sering Diabaikan
Hero jarang berdiri sendiri. Ia bekerja dalam sistem draft. Hero yang terlihat OP di satu tim bisa terlihat tidak berguna di tim lain dengan draft buruk.
Sayangnya, banyak pemain melewatkan fase ini. Mereka fokus pada hero lawan, bukan komposisi tim sendiri. Ketika kalah, yang disalahkan adalah hero, bukan keputusan draft atau sinergi yang gagal.
Di sinilah mitos OP paling sering lahir: hasil buruk dari keputusan yang jarang dievaluasi.
6. Ketika Hero Benar-Benar Bermasalah
Agar adil, perlu diakui: ya, kadang memang ada hero yang terlalu kuat. Patch baru bisa membawa desain yang belum matang. Dalam kasus seperti ini, kritik memang diperlukan.
Namun, kritik yang sehat berbasis pada pola, bukan emosi sesaat. Hero bermasalah terlihat konsisten mendominasi di berbagai level, bukan hanya di satu match ranked acak.
Tanpa pembedaan ini, istilah OP kehilangan makna dan berubah menjadi sekadar pelampiasan frustrasi.
Kesimpulan
Pertanyaan “hero OP atau skill issue?” jarang punya jawaban hitam-putih. Namun, lebih sering daripada yang kita kira, label OP adalah cara cepat untuk menghindari refleksi diri.
Balance Mobile Legends memang tidak sempurna, dan mungkin tidak akan pernah sempurna. Tapi banyak kekalahan bukan terjadi karena hero lawan terlalu kuat, melainkan karena kita gagal memahami konteks permainan.
Mungkin, alih-alih bertanya “kenapa hero itu OP?”, pertanyaan yang lebih jujur adalah:
apa yang tidak saya antisipasi dalam match ini?
Karena selama kita terus menyederhanakan masalah balance, kita juga menyederhanakan proses belajar. Dan di game kompetitif seperti Mobile Legends, yang paling berbahaya bukan hero OP—melainkan keengganan untuk mengakui celah dalam pemahaman sendiri.
